Sengkuni Kebinekaan

sengkuni

Sengkuni, atau yang dalam ejaan Sanskerta disebut Shakuni adalah seorang tokoh antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan paman para Kurawa dari pihak ibu. Sangkuni terkenal sebagai tokoh licik yang selalu menghasut para Kurawa agar memusuhi Pandawa.

Dengan kelihaian komunikasinya ia berhasil menelikung keabsahan Pandawa sebagai pewaris tahta Kerajaan Indraprastha. Dalam lakon Pewayangan Indonesia Sengkuni digambarkan sebagai seorang Mahapatih  Kerajaan Astina. Sangkuni sering disebut si mulut ular berbisa. Lewat bisikan-bisikannya ia berhasil mengubah suatu kejahatan menjadi sebuah kebenaran, kebenaran yang paling absolut sekalipun.

Sebagai negara yang komitmen dengan pelestarian budaya, lelaku Sengkuni agaknya juga ikut terwariskan. Meski dipandang “usang” bagi sebagian kaum muda Indonesia, seringkali budaya menjadi pandangan baru dalam menjelaskan dan menafsirkan fenomena kehidupan bernegara Indonesia.

Termasuk menjelaskan gelagat dalam komunikasi politik Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Meski seringkali berujar “kotor” dianggap tak manusiawi, sosok Ahok tetap saja menjadi pembenaran. Antitesis pejabat kekinian katanya, santun dan korupsi vis a vis tak beretika tapi tidak korupsi. Mengenai hal ini kebanyakan media ikut bertanggung jawab terhadap karakter bangsa nantinya.

Tindak-tanduk Ahok yang tidak terkontrol akhirnya pecah pada 27 September 2016. Ujarannya memancing kemarahan ummat Islam Indonesia, berjalan perkara, Ahok divonis polisi menista agama mayoritas bangsa ini. Ahok tak goyah, sesekali saja ia minta maaf tak bermaksud menghina. Hingga akhirnya pasca jadi tersangka ia malah menggagahi mereka yang kecewa dengan ungkapan, Ini untuk menentukan arah NKRI mau bagaimana ke depan.

Meski mulutnya tak bisa dikendalikan, ujaran Ahok nyatanya “aman-aman saja” di depan mata kamera wartawan. Mereka para pahlawan Aksi 411 dibuat kelimpungan, sebelum aksi terlaksana rakyat ditakut-takuti dengan isu pemecah belah bangsa, ditunggangi teroris, hingga melawan kodrat kebinekaan.

Pasca aksi hingga Ahok menjadi tersangka mereka yang tetap komitmen menuntut keadilan pun seperti dipaksa bungkam. Lha wong sudah tersangka, mau apalagi? Mereka yang berniat aksi lanjutan dicap sebagai perusak tatanan kebinekaan. Padahal di sisi lain rakyat memendam ketidakpuasan.

Saya kira ini satu contoh yang baik untuk demokrasi. Dan untuk teman teman yang mendukung, saya harapkan tetap semangat kita buat satu putaran buat Ahok-Djarot. Ahok masih pede seperti biasa padahal ia sedang memakai baju tersangka.

Harian Amanah
Jakarta | November 2016, 18

Merawat Kebinekaan

843596untitled-9copy

Aksi Bela Islam Jilid II atau lebih dikenal Aksi 411 Menuntut Keadilan atas penegakkan hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama yang dianggap menista agama Islam

Hari Pahlawan 10 November yang kita peringati setiap tahunnya merupakan pemantik semangat persatuan kebangsaan. Pejuang kemerdekaan membuktikannya di medan juang, generasi saat ini yang bertugas merawatnya.

Kebinekaan menjadi ciri khas bangsa Indonesia sejak dahulunya mulai dari geografi, budaya, bahasa, dan agama. Pancasila yang dirumuskan pendiri bangsa dan hasil kebesaran hati para ulama menjadi pengikat strategis sekaligus “ideologis” puzzle-puzzle keragaman nusantara.

Sekali lagi, Pita Bhineka tunggal Ika yang dicengkeram erat Sang Garuda menyimbolkan siapapun yang menyandang status Rakyat Indonesia wajib menjaga kerukunan di dalamnya, tak peduli ia suku apa, agama apa selama masih minum air dari tanah Indonesia ia wajib merawatnya.

Dipersatukan Pancasila atau Dipersatukan Pakai Pancasila tidak menjadi persoalan dalam kosakata kemajemukan bangsa. Poin pertama pancasila tentang ketuhanan menjadi pilar penting bahwa persatuan dan kebinekaan dilandaskan pada sifat-sifat ketuhanan. Konsekuensinya, selain kenegaraan yang dilandasi agama juga tidak boleh ada friksi lintas ummat.

“Saya yakin para ulama adalah pilar-pilar penopang NKRI,” ujar Presiden Joko Widodo ketika bersilaturahim dengan ulama di Istananya, Kamis (10/11). Jika diluaskan, ulama, pendeta, biksu dan ahli masing-masing agama adalah paku buminya Indonesia. Kita wajib meyakini, ketika kesalehan ummat menguat akan menciptakan tatanan kebangsaan yang adil dan beradab.

Agama bukan alat menjatuhkan, meniadakan, menyalahkan. Bahkan agama itu sendiri bukanlah alat. Agama adalah keyakinan lahir batin pemeluknya yang tidak boleh diusik siapa pun, Kepala RW, Lurah, Gubernur, Kapolri, Panglima, Presiden atau siapa saja.

Minoritas tidak boleh menghakimi mayoritas, sementara mayoritas harus mengayomi minoritas. Atau sebaiknya dikotomi minoritas-mayoritas dihapuskan saja dari memori bangsa. Sebab menyakiti pemeluk agama adalah menyakiti kebinekaan. Merusak kebinekaan merusak negara, dan itu merupakan sebuah kejahatan.

Harian Amanah
Jakarta | November 2016, 11

Ahok Sandungan Kebangsaan

238472ahok1

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat menghadiri pemeriksaan di Kantor Bareskrim Polri, Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (7/11)

Menjelang pekan pertama November 2016 situasi di Indonesia diprediksi akan memanas. Pasalnya ribuan masyarakat dan berbagai organisasi keagamaan akan kembali melakukan unjuk rasa yang berpusat di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat terkait dugaan penistaan agama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Tidak sekadar meminta Kepolisian bersikap cepat dalam memproses laporan dugaan penistaan yang sebelum-sebelumnya dilayangkan. Massa juga akan mendesak pemerintahan khususnya Presiden Jokowi untuk mengambil sikap tegas.

Mampirnya Ahok ke Istana Negara sebelum melaporkan klarifikasinya ke Bareskrim Polri soal “dibohongi dengan Al Maidah 51” menimbulkan kesan “ada main” antara Pimpina Negara dengan Pimpinan Ibu Kota itu. Apalagi politisi PAN Amien Rais dalam Aksi Bela Islam dua pekan lalu juga telah memberi sinyal bahwa Jokowi diminta tidak melindungi Ahok.

Apatisnya pemerintah merespons kegaduhan ini dikhawatirkan dapat menjadi batu sandungan bagi jalannya roda pemerintahan dan kehidupan kebangsaan khususnya. Eskalasi unjuk rasa yang digelar di berbagai daerah harusnya telah menjadi catatan sendiri bagi kepekaan Jokowi selaku penanggung jawab negeri ini.

Ahli Hukum dan Tata Negara Yusril Ihza sebelumnya mengatakan, jika situasi ini tidak dikelola dengan baik dan benar bisa mengarah kemana-mana dan tidak terkontrol. Senada dengan Yusril, Ketua Gerakan Nasional Pendukung Fatwa MUI, Bachtiar Nasir menuturkan bahwa fokus utama demo 4 November nanti adalah kepada Sang Mantan Gubernur DKI yang kini menjadi presiden.

Sebagai salah seorang yang berada di pusat pusaran krisis 1998 Yusril tentu tak asal prediksi. Budaya masyarakat kita memang ramah, tapi jika nilai-nilai kebangsaan diusik termasuk di dalamnya norma keagamaan akan membuat rakyat marah. Bachtiar pun mengakui kondisi psikologis seperti ini, meski telah mewanti-wanti bahwa 4 November aksi damai, pihaknya tidak akan bisa memprediksi apa yang terjadi selanjutnya jika gugatan rakyat tetap dimentahkan dan diacuhkan.

Kita berdoa saja, semoga kasus dugaan pensitaan agama ini tak menjadi bencana pemerintahan dan sandungan kebangsaan. Semoga pemegang kebijakan benar-benar bijak membela kebenaran dan menegakkan keadilan. Semoga!

Harian Amanah
Jakarta | Oktober 2016, 28

Sekali Waktu

20160328_151316-1

Sekali waktu aku memandangimu; di balik gerimis yang menirai serambi rumahmu.

Sekali waktu aku merinduimu; pada dedaunan yang kelak menyaksikan; aku dilukai kesibukan perasaanmu.

Sekali waktu aku mempuisimu; mengembun kelopak matamu; merekah keheninganmu.

Sekali waktu aku membencimu; tak ada penjelasan; aku telah jatuh cinta kepadamu.

Suandri Ansah | April 2016

Menikmati Gerhana Matahari Sebagai Wisata Religi

IMG_20160309_120659

Sejumlah masyarakat menikmati momen GMT usai melaksanakan shalat khusuf di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Rabu (9/3/2016)

Hari ini, Rabu (9/3/2016) sebanyak kurang lebih 11 provinsi di Indonesia dilintasi gerhana matahari total (GMT). Indonesia patut berbangga, sebab hanya ia negara satu-satunya yang dapat menikmati fenomena langka tersebut kali ini. Jalurnya melalui 11 provinsi, mulai dari Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Babel, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Continue reading

Memahami

12002292_1043783335639511_4437694345991690948_n

Bagaimana jika dirimu terpenjara dalam aksara-aksara yang tak pernah kamu baca sebelumnya, katamu.

Dipaku pada langit yang mataharinya tak pernah sempurna dikepak sayap burung-burung senja.

Sekuat apapun ketukanmu, tambahmu, menggoyangkan cahayanya pun tidak.

Liukan huruf yang tak kau mengerti perasaannya ditatapimu begitu saja.

Sementara langgam-langgam jawa melengking menggetarkan kelopak matamu. Dirimu menarik nafas percuma sebab hanya ada bayang-bayang yang tak kau tau maknanya.

Suandri Ansah | Januari 2016

Disudut Senja

1656389_1104001309617713_3057472831688956501_n

Aku merasa, hangatnya mentari sore itu, sedang bergumul melawan ketidakadilan. Cahayanya menerpa rerumput yang tengah berdoa untuk sebuah kepastian.

Bagaimana mungkin di negeri ini hal substansi begitu mudah dilupakan. Hanya karena burung, kodok, atau seberkas tanda tangan di bawah meja rakyat yang tengah kelaparan.

Senja meng-emas, seolah melambai pada ceruk-ceruk tamak. Sementara dirinya cemas, gemas dengan kerakusan secuil raja-raja tanpa mahkota. Mengejek dasi, setelan jas hitam dan pin emas di kerah raja.

Oo Tuhan. Di negeri ini seringkali kalam Mu dinista, hamba Mu dibuat tengkar agar raja-raja tetap nyaman disinggasana.

Dulu sekali, manusia takut dengan kejahatan, mulut busuk, berisik, pemarah, dan keangkuhan. Kini?

Segerombol serdadu tempur berbisik: jubah putih, perapal doa, pembawa pesan surga adalah ancaman nyata.

Orang takut berjalan ke masjid, gereja, atau vihara. Sebab senandung doa selalu dicurigai sebagai pembawa petaka.

Semenjak sebuah propaganda ditembak: entah dimana muara letupannya.

Oo Tuhan. Mengapa kemurnian begitu mudahnya diriakkan? Kenapa tidak dibuat saja ia membening dalam adukan, kobokkan, dan segala sumpah serapah.

Di sudut senja alam khusyuk bersembahyang tanpa peduli keramaian. Ia telah lama memahami: setelah ini ada yang harus dipertanggungjawabkan.

 

Suandri Ansah | Januari 2016