Ayat Kasmaran

DSC_0446

Foto: SUANDRIANSAH

  1. Wahai jomblo-jomblo yang tenang, sebutlah nama gebetanmu pada permulaan pagi dan petang. Maka bagimu cinta, mengalir di dalamnya rindu yang jernih lagi manis rasanya. Rindang kasih sayang dan menyejukkan pandangan. Engkau kekal di dalamnya.
  2. Ketahuilah, Aku sebaik-baik tempat bersandar. Jika mereka bertanya tentang-Ku, katakanlah: Aku ada di hati mereka yang ditolak cintanya.

Hafalkan dan ulang-ulangilah ayat ini sebelum dan sesudah mandi, atau sambil sisiran. Semoga Tuhan mengampuni dia yang menyakiti hatimu.

©Suandri Ansah

Sekali Waktu

20160328_151316-1

Sekali waktu aku memandangimu; di balik gerimis yang menirai serambi rumahmu.

Sekali waktu aku merinduimu; pada dedaunan yang kelak menyaksikan; aku dilukai kesibukan perasaanmu.

Sekali waktu aku mempuisimu; mengembun kelopak matamu; merekah keheninganmu.

Sekali waktu aku membencimu; tak ada penjelasan; aku telah jatuh cinta kepadamu.

Suandri Ansah | April 2016

Memahami

12002292_1043783335639511_4437694345991690948_n

Bagaimana jika dirimu terpenjara dalam aksara-aksara yang tak pernah kamu baca sebelumnya, katamu.

Dipaku pada langit yang mataharinya tak pernah sempurna dikepak sayap burung-burung senja.

Sekuat apapun ketukanmu, tambahmu, menggoyangkan cahayanya pun tidak.

Liukan huruf yang tak kau mengerti perasaannya ditatapimu begitu saja.

Sementara langgam-langgam jawa melengking menggetarkan kelopak matamu. Dirimu menarik nafas percuma sebab hanya ada bayang-bayang yang tak kau tau maknanya.

Suandri Ansah | Januari 2016

Disudut Senja

1656389_1104001309617713_3057472831688956501_n

Aku merasa, hangatnya mentari sore itu, sedang bergumul melawan ketidakadilan. Cahayanya menerpa rerumput yang tengah berdoa untuk sebuah kepastian.

Bagaimana mungkin di negeri ini hal substansi begitu mudah dilupakan. Hanya karena burung, kodok, atau seberkas tanda tangan di bawah meja rakyat yang tengah kelaparan.

Senja meng-emas, seolah melambai pada ceruk-ceruk tamak. Sementara dirinya cemas, gemas dengan kerakusan secuil raja-raja tanpa mahkota. Mengejek dasi, setelan jas hitam dan pin emas di kerah raja.

Oo Tuhan. Di negeri ini seringkali kalam Mu dinista, hamba Mu dibuat tengkar agar raja-raja tetap nyaman disinggasana.

Dulu sekali, manusia takut dengan kejahatan, mulut busuk, berisik, pemarah, dan keangkuhan. Kini?

Segerombol serdadu tempur berbisik: jubah putih, perapal doa, pembawa pesan surga adalah ancaman nyata.

Orang takut berjalan ke masjid, gereja, atau vihara. Sebab senandung doa selalu dicurigai sebagai pembawa petaka.

Semenjak sebuah propaganda ditembak: entah dimana muara letupannya.

Oo Tuhan. Mengapa kemurnian begitu mudahnya diriakkan? Kenapa tidak dibuat saja ia membening dalam adukan, kobokkan, dan segala sumpah serapah.

Di sudut senja alam khusyuk bersembahyang tanpa peduli keramaian. Ia telah lama memahami: setelah ini ada yang harus dipertanggungjawabkan.

 

Suandri Ansah | Januari 2016

Sebuah Ruang

bangku

Ada sebuah ruang…

Ruang yang sudutnya hampir sepi karena detik detaknya berlari. Hanya ada benang yang ditenun laba-laba kemarin sore untuk menghangatkannya di musim gigil.

Ada sebuah ruang…

Yang pintunya tidak pernah lagi aku buka. Katamu dulu, jangan ada yang mengetuk selain jemari yang kamu kenali. Yang sering kali kamu amati sejak bulan sempurna tiba-tiba saja menjadi dua.

Di salah satu sudut…

Lonceng kecil yang kamu gantung di atap terasnya tak lagi bunyi sejak musim panas pertama. Padahal kesenangannya bernyanyi menyambut migrasi burung-burung yang -entah siapa yang berani mengatakanya lebih dulu- rindukan sejak mereka bercengkrama diatas pandangan kita.

Entah hati siapa…

Dua kursi kayu dan satu meja kaca yang kerap kali kamu ganti hiasan bunganya. Tempat malam bercerita tentang bulan sempurna yang tiba-tiba saja menjadi dua.

Entah perasaan siapa…

Lantas pagi menyianginya sambil membawa cerita kedalam ruang tidurmu. Menggantikan kisah yang tiba-tiba saja hilang dalam benak seseorang yang tak pernah lupa sebelumnya.

Suandri Ansah | Desember 2015

Mencari ‘Kampung Baru’

Di negeri ini Idul Fitri membudayai penduduknya untuk giat bersilaturahmi. Saling kunjung sanak saudara, tetangga, kawan lama, bahkan orang-orang yang sudah lama tidak dijumpai. Halal bihalal kantor hingga reuni teman semasa sekolah. Idul Fitri menjadi energi tersendiri bagi negeri ini.

Banyak momen mengejutkan pada tiap perjumpaan. Terlebih bagi seorang mahasiswa akhir seperti saya. Kata orang, atau sebagaimana yang viral disosial media, lebaran adalah momen yang justru menimbulkan geregetan, gerogi, hingga lupa ingatan. Sebab katanya, seruntun pertanyaan “kapan wisuda?,” “kerja dimana?,” “masih sendirian aja?,” “mana pasangannya?'” Hingga to the point “kapan nikah?” Menjadi pertanyaan sekian banyak sanak saudara yang akan membuat kejiwaan tak karuan

Tapi sepertinya itu tidak berlaku bagi saya. Sebab jawaban dari sekian pertanyaan setidaknya sudah hampir terselesaikan.  Jika soal wisuda/kelulusan insyaallah sudah lulus, tinggal mengusahakan peresmian pelepasan formal. Pekerjaan? Biidznillah setelah ini saya mau nguli lagi, meneguhkan pasion journalist saya pada ada salah satu media islam yang cukup terkemuka. Dan terakhir yang masih misteri bagi saya adalah soal ‘gandengan’. Entah kabar sedih atau gembira bagi saya, tidak mudiknya saya pada Idul Fitri kali ini setidaknya telah menyelamatkan harga diri saya. Meski jomblo bukanlah status hina, tapi percayalah ia bukanlah gelar yang mulia.

Mencari ‘Kampung Baru’

Selain menghilangnya pendapatan ‘salam tempel’, tidak ada lagi agenda beli tamiya, beyblade, atau pistol-pistolan, bobot obrolan juga semakin mengalami perubahan. Jika dulu topik bergumul pada angpau siapa yang paling banyak maka kini hal itu sudah berganti menjadi siapakah yang sudah lebih layak? ‘Yang sudah lebih layak’

Obrolan ini mengalir begitu saja tanpa rasa bersalah dan berdosa. Ini kejadian nyata yang saya alami, atau mungkin kebanyakan pemuda alami. Ketika saya bersilaturahim dengan kawan-kawan pegiat dakwah sekolah semasa SMA. Walaupun kini kami berjumpa kembali dengan status berbeda; ada yang sudah bekerja, berwirausaha, berdagang, menjadi guru dan aktifis, tak menghalangi cairnya interaksi antara kami. Bahkan gadget sungguh menjadi tak begitu berharga. Ya, keikhlasan berjumpa telah membuat kepentingan apa dan siapa sirna.

Banyak tema yang kami angkat dalam obrolan, mulai dari bagaimana kondisi dakwah sekolah hingga rencana masing-masing pribadi dimasa depan. Semua itu berbalut bersama renyahnya cemilan mengenyangkan. Tak ketinggalan sindiran-sindiran tentang ‘mencari kampung halaman.’ Sebab tak semua teman saya kaum urban, ada yang pribumi Jakarta asli. Bukan bermaksud primordial tapi dari situlah saya jadi punya guyonan-guyonan nakal, “Buruan cari kampung halaman” setidaknya mereka jadi punya alasan untuk mudik, merasakan manisnya perjalanan ke ke kampung halaman. Tapi emang dasar orang betawi, jiwa kelakarnya tak pernah sepi ada aja bahan untuk menimpali “Lu kapan cari kampung baru?”

Mudik bukanlah sekedar pindah dari kota ke desa, ada dimensi ruhiyah dan tarbiyah membersamainya. Bagi mereka yang sudah menikah mudik dapat menjadi sarana meneguhkan hubungan yang sakinah, mawadah, wa rohmah. Menikah menjadi iri tersendiri, terlebih pada momen sakral seperti Idul Fitri. Tentulah mudik, berkeliling pada kerabat, tetangga  akan menjadi sangat mengasyikan.

Tapi menurut saya menikah bukan tentang siapa yang paling cepat melainkan siapa yang paling siap. Siap tidak harus menunggu punya rumah baru, mobil baru melainkan kesiapan ilmu dan visi pernikahan itu sendiri. Seharusnya bagi kalangan pegiat dakwah menikah adalah teknik lain memperkuat dakwah itu sendiri. Pernikahan harus didasari visi dakwah dan asas ketauhidan yang matang. Sebab jika berdakwah saja sudah sedemikian sabarnya apalagi dengan berdakwah dalam bingkai pernikahan. Itulah yang membuat obrolan pernikahan kami bukan sekedar becandaan. Kami me-nyuport penuh siapapun diantara kami yang punya ‘kampung baru’ tahun depan.

Menjelang malam, teori perbincangan berbanding lurus dengan suguhan ternyata bukan tong kosong. Menjelang malam obrolan semakin menyepi, rindu-rindu di dada tak lagi merana. Meskipun begitu silaturahim tak selesai sampai disana. Obrolan meja makan kami berpindah ke obrolan malam. Ya, kami menginap malam itu. Rasa keluarga yang sudah terbina membuat kami nyaman tidur dimana saja.

Silaturahim adalah bagian keajaiban syariat yang mengesankan. Tidak bersemi darinya melainkan kasih sayang, tidak tumbuh darinya kecuali persatuan. Itulah fondasi dakwah Rasulullah saat hijrah Mekkah ke Madinah. Muhajirin yang Rasulullah persaudarakan dengan Anshar merupakan teladan cerdas bagi siapa saja yang ingin membangun kekuatan sosial. Semoga Indonesia segera sadar kembali memiliki nilai-nilai ini. Maka Indonesia kan menjadi satu kekuatan yang paling berani, paling berdikari!

Suandri Ansah | Juli 2015