Segerakanlah Sembayang Seperti Kamu Menyegerakan Pipis dan Pup

Suatu ketika setelah liputan di sebuah Hotel Grand Syahid di Jaksel, saya ngobrol sama kawan sambil jalan pulang.

Di tengah obrolan, masih di hotel mewah itu, terdengar adzan Ashar. Saya ajak kawan saya sembayang. Kebetulan juga saya kebelet pipis, sekalian maksudnya.

Eh.. tak disangka, saya kira dia alim, ternyata semua laki-laki sama aja. Azan masih berkumandang dia malah izin pulang duluan. Duh, betapa susah mau jadi orang saleh.

Yowes, karena ga ada temen pulang, ga jadilah saya pipis. Dan ga jadi juga saya sembayang. Kemaluan saya-rasa malu maksudnya-muncul. Kebetulan mushallanya Deket sama WC.

Nanti kalo ditanya Tuhan bisa repot jawabnya. “Hai Suandri! Kenapa kamu hanya pipis. Tidak sembayang sekalian, padahal mushallanya Deket wc”. Bisa modar saya.

Kalo ga pipis kan bisa jawab. “Anu.. Tuhan, saya kan ga jadi pipis. Dan Engkau kan benci orang yang sembayang sambil nahan pipis”. Kemungkinan selamat masih ada.

Lalu sambil jalan saya merenung kecil-kecilan, seberapa lama saya bisa nahan pipis? Paling sejam dua jam.

Lalu timbul pertanyaan, kalo sehari ga pipis, ga pup. Gimana rasanya ya. Kalo orang kebelet banget pipis sama pup, bisa ditahan ga ya?

Nah, kita masuk bahasan yang agak dalem dikit. Siap-siap. Ternyata renungan saya ada gunanya juga. Minimal saya jadi sadar betapa pentingnya menyegerakan shalat.

Seperti menyegerakan pipis dan pup, terutama kalo udah kebelet banget. Saya sadar, tetapi penerapannya belum tentu lancar.

Saya sering nunda sembayang, gimana kalo Gusti Allah nunda proses pipis dan pup saya. Nanti saya protes,

“Lho, gimana ini ya Allah, kenapa saya jadi susah pipis, susah pup begini?” Prediksi saya, Allah akan jawab begini,

“Lha, kamu nunda sembayang, sering juga gak sembayang saya biasa aja. Padahal itu juga kebutuhanmu. Masa saya ga kasih kamu pipis dan pup barang sehari-tiga hari, kamu protes?”

Lha bisa modar tenanan tho saya ini. Kalo saya minta tolong malaikat, nanti diketawain, “Lha saya ini ga pipis, ga pup je. Saya nurut Gusti Allah”. Njur piye nimpaline, dab?

Ya, minimal ini jadi “teori” sekaligus “cambuk” bagi saya sendiri. Soalnya teori “Sholat seperti Makan” dan “Sholat seperti Bernafas” yang sering disampaikan ustad-ustad susah saya cerna.

Saya bisa nahan ga makan dua tiga hari. Kalo ga dikasih nafas berarti saya ga wajib sembayang lagi. Selesai urusan.

Lagipula, teori ini saya pikir bisa jadi bahan negosiasi dengan Allah di akhirat nanti. “Hai Suandri!! Kenapa sembayangmu kadang tepat kadang telat 15 menit?”

“Nyuwun pangapunten Gusti Allah, soalnya batas maksimal saya nahan pipis sama pup kira-kira ya 15 menit itu.”

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

Advertisements

Membandingkan Ke-Ndeso-an Kaesang dan Tukul Arwana

kaesang-pangarep_20161211_195330

Kaesang dan pacarnya. Ojo iri mbloo.. Foto: Instagram.com/kaesangp/

Ramai nya perbincangan video blog (vlog) ndeso ala Mas Kaesang Pangarep mengingatkan saya kepada salah satu iklan penyedia layanan telekomunikasi swasta di Indonesia yang dibintangi oleh artis berwajah ndeso Tukul Arwana tahun 2014 lalu.

Saya ndak tahu apakah Mas Kaesang memplagiat video iklan itu atau tidak. Soalnya agak-agak mirip. Saya khawatir kalau Mas Kaesang mulai terinspirasi oleh AFI Nihaya, cewek SMA yang kerap melakukan plagiarisme dalam status Facebok-nya itu.

Continue reading

Kegembiraan yang Berkeadilan

Ramadhan berganti Syawal, tetapi semangatnya jangan ikutan budal. Lebaran, cukup cintamu saja yang tersengal. Iman harus tetap kekal.

Dua puluh 9 hari ketaqwaan telah disekolahkan. Bukan hanya 8 jam, tapi Full Day dengan kurikulum yang disesuaikan. Setansetan juga dimadrasahkan dari menggoda ummat beriman. Barangkali disuruh merenung.

Jangan lagi tanya soal pendidikan karakter. Kemendikbud tak punya secuil urusan, kecuali penyelenggaraan pesantren kilat di instansi pendidikan.

Lebaran, setansetan-yang juga puasa dari menggoda manusia-dilepaskan seiring dibebaskannya nastarnastar dan biskuit Khong Guan dari lemari pers3mbunyian.

Kini, godaannya bahkan bisa lebih memikat dari senyum manis gebetan yang menunggu kedatanganmu bersama keluarga di depan pintu yang habis di cat dengan warna baru.

Minal Aidin wal Faidzin bisa jadi luapan kegembiraan atas dua makhluk ciptaan Tuhan (yang paling seksi): insan beriman dan setansetan. Kegembiraan yang berkeadilan.