Mewaspadai Khilafah Gaya Baru

Demo HTI

Massa Hizbut Tahrir Indonesia demo tolak Perppu Ormas di Kawasan Patung Kuda, Monumen Nasional Jakarta Pusat. Foto: Suandri Ansah

Setelah resmi di cabut status badan hukumnya oleh Kemenkopolhukam, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nampaknya akan mejelma menjadi salah satu “hantu” yang paling ditakuti di negeri ini setelah Pocong, Suster Keramas, Jalangkung, dan tentu saja Party Kommunist Indonesia (PKI).

Pencabutan status hukum otomatis menihilkan hak HTI menjalankan segala gerilya khilafahnya. Jangankan berdakwah, atributnya pun tak boleh nongol lagi. Kelak jika ada pemuda yang dengan santainya pakai oblong bertuliskan “HTI”, siap-siap saja dicyduk polisi.

Meskipun niatnya cuma mengabadikan status asmara yang linglung akibat digantung si doi. Bahwasanya kepada dunia ia ingin sampaikan, “Cintaku terjebak HTI, Hubungan Tanpa Ikatan.” Udah nembak berkali-kali cuma dijawab “Aku mau fokus skripsi dulu.”  wahahasuuu…

Sempurnalah HTI menjadi junior PKI dalam dunia ghaib: dihantu-hantukan, dikucilkan, distigma. Agar tak merasuki dipagari ayat suci undang-undang. Dituding mbalelo kepada negara dan tafsir tunggal (baca: sepihak) Pancasila, keduanya diruqiyah dengan zikir-zikir ketakutan.

Istilah Komunisme Gaya Baru terus digaung-gaungkan demi menjaga tensi phobia publik yang mengerucut pada politisasi kekuasaan bahaya laten komunis. Eks-HTI mesti tepo sliro bila muncul istilah Khilafah Gaya Baru. Termasuk jika diasingkan ke pulau Buru.

Perppu nomor 2 tahun 2017 tentang Ormas telah menampakkan wajah diktatornya yang selama ini sembunyi di balik topeng kepolosan Pakde Jokowi. Menyelam di bawah gorong-gorong sisa kampanye, di kolam istana tempat kodok favoritnya merenung. Kwang kwong-kwang kwong…

Klaim pemerintah bahwa dirinya paling nasionalis dan pancasilais tentu  patut dirasani. Jika saja mau mengesampingkan hawa nafsu politiknya, dengan kejernihan batinnya PKI dan HTI bisa jadi yang paling nasionalis dan pancasilais dibanding rezim itu sendiri.

Sungguh, gerakan “Aku Pancasila, Aku Indonesia” yang sempat centil di dunia maya tak ada apa-apanya dibanding gerakan front nasionalis gagasan Aidit CS yang mengangkat martabat kaum tani. Sengsara hidup di dunia, berikhlaslah kita bersama,” kata Ibnu Parna dalam risalahnya.

Andai saya anggota HTI, ini cuma andai lho ya, saya akan katakan, “Hai Pakde Jokowi, jangan jadi wahabi Pancasila. Mengklaim dirimu yang paling benar sementara kami salah semuanya!” (Tetapi jangan berkecil hati bila di balas, “Lha, ndak ngaca he, mas?!”)

Dalam memperjuangkan gagasannya, PKI punya jargon “Tujuh Setan Desa”.  HTI punya jargon “Semuanya Setan Kecuali Saya” yang dalam bahasa “syariah-nya” HTI disebut thagut. Mungkin sebab ini Pakde Jokowi lebih takut Khilafah Gaya Baru ketimbang Komunis Gaya Baru.

Selalu ada hikmah. Di balik kesusahan ada kemudahan. Wabilkhusus para pemburu seminar dan event organizer pemikiran. Bila dulu temanya monoton “Mewaspadai Komunis Gaya Baru”, kini bisa sedikti variatif dan menyenangkan “Mewaspadai Khilafah Gaya Baru”.

Bahaya Laten Khilafah bisa jadi tema buku yang “Wahh”. Menceritakan kejamnya anggota HTI membunuh kyai-kyai yang menghalalkan rokok. Membakar Kitab Suci UUD, menyiksa anggota DPR, membakar parlemen yang dianggap sarang thaghut. Benar-tidak nomor sekian, toh cuma cerita. Buat lucu-lucuan politik tentu tak kalah asyique.

Kamu  yang antikomunis sekaligus anti-HTI, selenggarakanlah seminar bertajuk MKKGB (Mewaspadai Komunis, Khilafah Gaya Baru). Namun,  judul ini rawan bagi pembaca, salah-salah dikira ada gerakan baru: Komunis Khilafah (komunis yang ingin menegakkan khilafah). Opo gak ngelu ndasmu?!

Ya, harap maklum. Bagaimana pun jua anak cucu bangsa harus dirawat dan diruwat dari ideologi yang (dianggap) merongrong Pancasila. Kelak bila sudah dewasa diharapkan mereka manut-manut saja apa kata ketua partainya presidennya.

HTI secara fisik boleh dibubarkan, tetapi tidak dengan ideologinya. Komunisme boleh dikekang, tetapi tidak dengan jiwanya. Dari aktifis PKI lahirlah generasi Aku Bangga Jadi Anak PKI. Mungkinkah akan terbit buku berjudul Aku Bangga Jadi Anak HTI ? kita tunggu saja.

Akhirul kalam, saya ucapkan selamat bergabung di neraka rezim kepala batu (meminjam istilah Aidit) bersama Komunisme, Leninisme, Marxisme dan tentu saja, selamat datang Khilafah-isme. Takbir !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s