Membandingkan Ke-Ndeso-an Kaesang dan Tukul Arwana

kaesang-pangarep_20161211_195330

Kaesang dan pacarnya. Ojo iri mbloo.. Foto: Instagram.com/kaesangp/

Ramai nya perbincangan video blog (vlog) ndeso ala Mas Kaesang Pangarep mengingatkan saya kepada salah satu iklan penyedia layanan telekomunikasi swasta di Indonesia yang dibintangi oleh artis berwajah ndeso Tukul Arwana tahun 2014 lalu.

Saya ndak tahu apakah Mas Kaesang memplagiat video iklan itu atau tidak. Soalnya agak-agak mirip. Saya khawatir kalau Mas Kaesang mulai terinspirasi oleh AFI Nihaya, cewek SMA yang kerap melakukan plagiarisme dalam status Facebok-nya itu.

AFI ini dulu sempat diundang bapaknya Mas Kaesang, Pakde Joko Widodo (Jokowi) ke istananya beberapa waktu silam, sempat selfie bareng juga. Tapi sekarang kayaknya sudah tidak dilirik lagi, kabar terakhir AFI buat video dirinya sedang bunuh diri frustasi akibat tak tahan di bully.

Lah salah sendiri sukanya plagiat. Karep’e piye tho nduk..

Kembali. Kedua video itu memang memiliki tema yang hampir mirip. Pada mulanya vlog Mas Kaesang maupun iklan Tukul sama-sama diawali cerita tentang proyek. Mas Kaesang bicara pejabat yang minta proyek, Tukul meninjau proyek pembangunan rumahnya.

Keduanya juga sama-sama mengeksploitasi ndeso yang diartikan sebagai kemiskinan, keterbelakangan, tidak berpendidikan, norak. “Kerja yang cepet dong, kayak interet saya. Gak tau internet kan? Ndeso!” akting Pakde Tukul kepada Pak Tukang yang mengerjakan rumahnya.

Kalau mau dikritisi, kemudahan akses internet, teknologi, dan pendidikan itu kan kewajiban pemerintah dalam memenuhi hak warganya. Tapi dasar warga desa yang tak tahu apa-apa dan nrimonrimo saja, ya jadilah objek penderita dan superioritas warga kota. Apes.

Mas Kaesang atau kepolisian boleh menampik tidak ada hati yang tersakiti ujaran kebencian. Tapi perlu diingat, tiga tahun lalu Pakde Jokowi sempat mumet ndas’e gara-gara diserang ndeso oleh lawan politiknya.

“Orang berpikir wajah saya wajah kampung, kemudian melecehkan, wajah ndeso. Mereka pikir saya ini bodoh. Saya enggak sombong, wajah ndeso tapi otak internasional,” ujar Pakde Jokowi kepada wartawan saat kampanye untuk kursi Presiden tahun 2014 silam.

Kesamaan lainnya, meskipun wajahnya tidak mirip, Mas kaesang dan Pakde Tukul sama-sama gemar menonjolkan hewan “keberuntungannya”. Pakde Tukul dengan Arwana-nya sementara Mas Kaesang dengan Kecebong-nya.

Pakde Tukul dengan rupa bibirnya yang kelewat maju seperti moncong ikan hias yang mahal harganya itu memang tak bisa dilepas dari branding dirinya. Ndilalah, gara-gara itu Pakde Tukul bisa sukses di kancah pertelevisian.

Ke-Ndeso-an Pakde Tukul itu otentik, orisinil.. nil.. nil. Keunikan yang digali dari dirinya sendiri. Malah seringkali ia bangga dengan ke-Ndeso-annya itu. “Wajah Ndeso rejeki Kuto,” kata pria yang gemar kembali ke laptop ini.

Kalau Mas Kaesang, sebenarnya biasa saja. Wajahnya tampan dan jerawatan seperti kebanyakan anak remaja akil baligh yang mulai beranjak dewasa, yang mulai suka tebar pesona kepada lawan jenis dan seringkali ngebet rabi.

Yang menarik yakni tulisan pada topi warna hitam yang dikenakan Mas Kaesang kemana-mana, “Kolektor Kecebong”. Padahal yang ngoleksi kecebong itu kan bapaknya, Pakde Jokowi di kolam Istana Bogor. Yang setiap dua pekan sekali dipindahkan ke kolam lain agar menjadi pangeran tampan kodok.

“Supaya kalau malam ada suara kodok, kwang-kwong, kwang-kwong, kwang-kwong. Kan enak, jadinya fresh otaknya,” kata Pakde Jokowi dikutip Kompas.

Soal kata ndeso yang dianggap sebagai ujaran kebencian, saya tak mau ikut berpolemik. Saya lebih senang diajak piknik dan cuci mata lihat gadis-gadis cantik, apalagi di desa. Joss… Tetapi, ngomong-nomong ndeso itu apa sih?

Jika kata ndeso yang dalam bahasa jawa diartikan atau disejajarkan dengan kata kampungan, maka menurut KBBI Daring Kemendikbud, Kampungan adalah kata sifat atau kiasan berkaitan dengan kebiasaan di kampung; terbelakang (belum modern); kolot. Arti lain tidak tahu sopan santun; tidak terdidik; kurang ajar.

Sementara kebiasaan di kampung itu tak lain dan tak bukan adalah siklus aktifitas, perilaku dan hubungan sosial orang-orang yang tinggal di kampung. Orang yang tinggal di kampung ya disebut orang kampung atau wong ndeso.

Hemat saya yang ndeso itu pemerintah dalam hal ini badan bahasa. Kenapa mereka mengidentikkan kampung dengan terbelakang (belum modern); kolot. Terbelakang atau belum modern itu kan karena pemerintah hanya memusatkan pembangunan di kota-kota.

Kolot karena memang anak-anak muda yang bergairah lebih memilih bekerja di kota. Fasilitas pendidikan, akses informasi, dan lapangan pekerjaan lebih banyak di kota. Tak heran jika di desa banyak dihuni orang tua dan pemikirannya itu-itu aja. Ngerti ora son?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s