Memeluk Rohingya

genosida-rohingya

Konferensi Pers South East Asia Humanitarian (SEAHUM) bersama Aliansi Lembaga Kemanusiaan Indonesia. Mereka mendorong pemerintah Indonesia segera melakukan langkah taktis diplomatis terkait tragedi kemanusiaan yang menimpa minoritas Rohingya di Rakhine, Myanmar. Foto: Suandri

Matra bersenjata Myanmar secara demonstratif memasuki kampung-kampung warga minoritas Muslim Rohingya dan melakukan genosida besar-besaran. Lembaga pengamat hak asasi manusia Human Rights Watch melaporkan telah terjadi perusakan besar-besaran desa-desa di negara bagian Rakhine yang terletak di pantai barat Myanmar.

Sediktinya 1250 rumah dari lima desa yang dihuni warga etnis Rohingya dihancurkan, 70 warga meninggal dan 400 orang ditangkap dalam operasi militer Burma, nama lain Myanmar. Kondisi ini diprediksi akan memantik gelombang pengungsi yang akan melanda kawasan Asia Tenggara dan Selatan.

“Gambar satelit baru-baru ini tidak hanya menunjukkan kerusakan yang meluas di desa-desa Rohingya tetapi memperlihatkan bahwa kerusakan itu lebih besar dari yang kita perkirakan pertama kali,” demikian ujar Brad Adams, Direktur HRW Asia dikutip laman resmi HRW, Kamis (24/11).

Kondisi ini menyulut kembali emosi dunia Internasional. Myanmar lagi-lagi melukai kedamaian dunia sambil melucuti hak-hak asasi manusia di dalamnya. Tidak hanya terusir, warga juga mengalami penyiksaan, pembunuhan, penyembelihan, kerja paksa, dan yang paling rentan menjadi korban adalah anak-anak dan perempuan. Sejak 30 tahun lalu Minoritas Muslim Rohingya menangisi penjajahan ini.

Tidak berhenti sampai di situ, operasi keamanan pemerintah juga telah memotong bantuan kepada puluhan ribu orang dan memaksa warga meninggalkan rumah mereka, 30 ribu warga terusir. Di Indonesia, lembaga-lembaga kemanusiaan membentuk sebuah aliansi “pasukan” kemanusiaan, mengirim bantuan ke titik-titik konflik di sana.

Selangkah lebih maju, lagi-lagi masyarakat lebih peka kepada kemanusiaan ketimbang negara (baca: pemerintahan) itu sendiri. Lagi-lagi rakyat yang mendesak pemerintah untuk segera bersikap atas penodaan kemanusiaan di Myanmar, mungkin masih ada yang ingat kisah nelayan Aceh menolong “Manusia Perahu” Mei tahun silam.

Ke depan, pemerintah diharapkan tidak sekadar mengungkapkan rasa keprihatinan dan sekadar menaruh harap pada pemerintah Myanmar. Lebih dari itu langkah taktis diplomasi untuk menghentikan kekerasan, dan membuka blokade kawasan etnis Rohingya kepada lembaga kemanusiaan. Cukup pemerintah bukakan pintunya, biar rakyat yang memeluk Rohingya mengusap kesedihan di hatinya.

Harian Amanah
Jakarta | November 2016, 24

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s