Merawat Kebinekaan

843596untitled-9copy

Aksi Bela Islam Jilid II atau lebih dikenal Aksi 411 Menuntut Keadilan atas penegakkan hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama yang dianggap menista agama Islam

Hari Pahlawan 10 November yang kita peringati setiap tahunnya merupakan pemantik semangat persatuan kebangsaan. Pejuang kemerdekaan membuktikannya di medan juang, generasi saat ini yang bertugas merawatnya.

Kebinekaan menjadi ciri khas bangsa Indonesia sejak dahulunya mulai dari geografi, budaya, bahasa, dan agama. Pancasila yang dirumuskan pendiri bangsa dan hasil kebesaran hati para ulama menjadi pengikat strategis sekaligus “ideologis” puzzle-puzzle keragaman nusantara.

Sekali lagi, Pita Bhineka tunggal Ika yang dicengkeram erat Sang Garuda menyimbolkan siapapun yang menyandang status Rakyat Indonesia wajib menjaga kerukunan di dalamnya, tak peduli ia suku apa, agama apa selama masih minum air dari tanah Indonesia ia wajib merawatnya.

Dipersatukan Pancasila atau Dipersatukan Pakai Pancasila tidak menjadi persoalan dalam kosakata kemajemukan bangsa. Poin pertama pancasila tentang ketuhanan menjadi pilar penting bahwa persatuan dan kebinekaan dilandaskan pada sifat-sifat ketuhanan. Konsekuensinya, selain kenegaraan yang dilandasi agama juga tidak boleh ada friksi lintas ummat.

“Saya yakin para ulama adalah pilar-pilar penopang NKRI,” ujar Presiden Joko Widodo ketika bersilaturahim dengan ulama di Istananya, Kamis (10/11). Jika diluaskan, ulama, pendeta, biksu dan ahli masing-masing agama adalah paku buminya Indonesia. Kita wajib meyakini, ketika kesalehan ummat menguat akan menciptakan tatanan kebangsaan yang adil dan beradab.

Agama bukan alat menjatuhkan, meniadakan, menyalahkan. Bahkan agama itu sendiri bukanlah alat. Agama adalah keyakinan lahir batin pemeluknya yang tidak boleh diusik siapa pun, Kepala RW, Lurah, Gubernur, Kapolri, Panglima, Presiden atau siapa saja.

Minoritas tidak boleh menghakimi mayoritas, sementara mayoritas harus mengayomi minoritas. Atau sebaiknya dikotomi minoritas-mayoritas dihapuskan saja dari memori bangsa. Sebab menyakiti pemeluk agama adalah menyakiti kebinekaan. Merusak kebinekaan merusak negara, dan itu merupakan sebuah kejahatan.

Harian Amanah
Jakarta | November 2016, 11

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s