Disudut Senja

1656389_1104001309617713_3057472831688956501_n

Aku merasa, hangatnya mentari sore itu, sedang bergumul melawan ketidakadilan. Cahayanya menerpa rerumput yang tengah berdoa untuk sebuah kepastian.

Bagaimana mungkin di negeri ini hal substansi begitu mudah dilupakan. Hanya karena burung, kodok, atau seberkas tanda tangan di bawah meja rakyat yang tengah kelaparan.

Senja meng-emas, seolah melambai pada ceruk-ceruk tamak. Sementara dirinya cemas, gemas dengan kerakusan secuil raja-raja tanpa mahkota. Mengejek dasi, setelan jas hitam dan pin emas di kerah raja.

Oo Tuhan. Di negeri ini seringkali kalam Mu dinista, hamba Mu dibuat tengkar agar raja-raja tetap nyaman disinggasana.

Dulu sekali, manusia takut dengan kejahatan, mulut busuk, berisik, pemarah, dan keangkuhan. Kini?

Segerombol serdadu tempur berbisik: jubah putih, perapal doa, pembawa pesan surga adalah ancaman nyata.

Orang takut berjalan ke masjid, gereja, atau vihara. Sebab senandung doa selalu dicurigai sebagai pembawa petaka.

Semenjak sebuah propaganda ditembak: entah dimana muara letupannya.

Oo Tuhan. Mengapa kemurnian begitu mudahnya diriakkan? Kenapa tidak dibuat saja ia membening dalam adukan, kobokkan, dan segala sumpah serapah.

Di sudut senja alam khusyuk bersembahyang tanpa peduli keramaian. Ia telah lama memahami: setelah ini ada yang harus dipertanggungjawabkan.

 

Suandri Ansah | Januari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s