Sebuah Ruang

bangku

Ada sebuah ruang…

Ruang yang sudutnya hampir sepi karena detik detaknya berlari. Hanya ada benang yang ditenun laba-laba kemarin sore untuk menghangatkannya di musim gigil.

Ada sebuah ruang…

Yang pintunya tidak pernah lagi aku buka. Katamu dulu, jangan ada yang mengetuk selain jemari yang kamu kenali. Yang sering kali kamu amati sejak bulan sempurna tiba-tiba saja menjadi dua.

Di salah satu sudut…

Lonceng kecil yang kamu gantung di atap terasnya tak lagi bunyi sejak musim panas pertama. Padahal kesenangannya bernyanyi menyambut migrasi burung-burung yang -entah siapa yang berani mengatakanya lebih dulu- rindukan sejak mereka bercengkrama diatas pandangan kita.

Entah hati siapa…

Dua kursi kayu dan satu meja kaca yang kerap kali kamu ganti hiasan bunganya. Tempat malam bercerita tentang bulan sempurna yang tiba-tiba saja menjadi dua.

Entah perasaan siapa…

Lantas pagi menyianginya sambil membawa cerita kedalam ruang tidurmu. Menggantikan kisah yang tiba-tiba saja hilang dalam benak seseorang yang tak pernah lupa sebelumnya.

Suandri Ansah | Desember 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s