Mencari ‘Kampung Baru’

Di negeri ini Idul Fitri membudayai penduduknya untuk giat bersilaturahmi. Saling kunjung sanak saudara, tetangga, kawan lama, bahkan orang-orang yang sudah lama tidak dijumpai. Halal bihalal kantor hingga reuni teman semasa sekolah. Idul Fitri menjadi energi tersendiri bagi negeri ini.

Banyak momen mengejutkan pada tiap perjumpaan. Terlebih bagi seorang mahasiswa akhir seperti saya. Kata orang, atau sebagaimana yang viral disosial media, lebaran adalah momen yang justru menimbulkan geregetan, gerogi, hingga lupa ingatan. Sebab katanya, seruntun pertanyaan “kapan wisuda?,” “kerja dimana?,” “masih sendirian aja?,” “mana pasangannya?'” Hingga to the point “kapan nikah?” Menjadi pertanyaan sekian banyak sanak saudara yang akan membuat kejiwaan tak karuan

Tapi sepertinya itu tidak berlaku bagi saya. Sebab jawaban dari sekian pertanyaan setidaknya sudah hampir terselesaikan.  Jika soal wisuda/kelulusan insyaallah sudah lulus, tinggal mengusahakan peresmian pelepasan formal. Pekerjaan? Biidznillah setelah ini saya mau nguli lagi, meneguhkan pasion journalist saya pada ada salah satu media islam yang cukup terkemuka. Dan terakhir yang masih misteri bagi saya adalah soal ‘gandengan’. Entah kabar sedih atau gembira bagi saya, tidak mudiknya saya pada Idul Fitri kali ini setidaknya telah menyelamatkan harga diri saya. Meski jomblo bukanlah status hina, tapi percayalah ia bukanlah gelar yang mulia.

Mencari ‘Kampung Baru’

Selain menghilangnya pendapatan ‘salam tempel’, tidak ada lagi agenda beli tamiya, beyblade, atau pistol-pistolan, bobot obrolan juga semakin mengalami perubahan. Jika dulu topik bergumul pada angpau siapa yang paling banyak maka kini hal itu sudah berganti menjadi siapakah yang sudah lebih layak? ‘Yang sudah lebih layak’

Obrolan ini mengalir begitu saja tanpa rasa bersalah dan berdosa. Ini kejadian nyata yang saya alami, atau mungkin kebanyakan pemuda alami. Ketika saya bersilaturahim dengan kawan-kawan pegiat dakwah sekolah semasa SMA. Walaupun kini kami berjumpa kembali dengan status berbeda; ada yang sudah bekerja, berwirausaha, berdagang, menjadi guru dan aktifis, tak menghalangi cairnya interaksi antara kami. Bahkan gadget sungguh menjadi tak begitu berharga. Ya, keikhlasan berjumpa telah membuat kepentingan apa dan siapa sirna.

Banyak tema yang kami angkat dalam obrolan, mulai dari bagaimana kondisi dakwah sekolah hingga rencana masing-masing pribadi dimasa depan. Semua itu berbalut bersama renyahnya cemilan mengenyangkan. Tak ketinggalan sindiran-sindiran tentang ‘mencari kampung halaman.’ Sebab tak semua teman saya kaum urban, ada yang pribumi Jakarta asli. Bukan bermaksud primordial tapi dari situlah saya jadi punya guyonan-guyonan nakal, “Buruan cari kampung halaman” setidaknya mereka jadi punya alasan untuk mudik, merasakan manisnya perjalanan ke ke kampung halaman. Tapi emang dasar orang betawi, jiwa kelakarnya tak pernah sepi ada aja bahan untuk menimpali “Lu kapan cari kampung baru?”

Mudik bukanlah sekedar pindah dari kota ke desa, ada dimensi ruhiyah dan tarbiyah membersamainya. Bagi mereka yang sudah menikah mudik dapat menjadi sarana meneguhkan hubungan yang sakinah, mawadah, wa rohmah. Menikah menjadi iri tersendiri, terlebih pada momen sakral seperti Idul Fitri. Tentulah mudik, berkeliling pada kerabat, tetangga  akan menjadi sangat mengasyikan.

Tapi menurut saya menikah bukan tentang siapa yang paling cepat melainkan siapa yang paling siap. Siap tidak harus menunggu punya rumah baru, mobil baru melainkan kesiapan ilmu dan visi pernikahan itu sendiri. Seharusnya bagi kalangan pegiat dakwah menikah adalah teknik lain memperkuat dakwah itu sendiri. Pernikahan harus didasari visi dakwah dan asas ketauhidan yang matang. Sebab jika berdakwah saja sudah sedemikian sabarnya apalagi dengan berdakwah dalam bingkai pernikahan. Itulah yang membuat obrolan pernikahan kami bukan sekedar becandaan. Kami me-nyuport penuh siapapun diantara kami yang punya ‘kampung baru’ tahun depan.

Menjelang malam, teori perbincangan berbanding lurus dengan suguhan ternyata bukan tong kosong. Menjelang malam obrolan semakin menyepi, rindu-rindu di dada tak lagi merana. Meskipun begitu silaturahim tak selesai sampai disana. Obrolan meja makan kami berpindah ke obrolan malam. Ya, kami menginap malam itu. Rasa keluarga yang sudah terbina membuat kami nyaman tidur dimana saja.

Silaturahim adalah bagian keajaiban syariat yang mengesankan. Tidak bersemi darinya melainkan kasih sayang, tidak tumbuh darinya kecuali persatuan. Itulah fondasi dakwah Rasulullah saat hijrah Mekkah ke Madinah. Muhajirin yang Rasulullah persaudarakan dengan Anshar merupakan teladan cerdas bagi siapa saja yang ingin membangun kekuatan sosial. Semoga Indonesia segera sadar kembali memiliki nilai-nilai ini. Maka Indonesia kan menjadi satu kekuatan yang paling berani, paling berdikari!

Suandri Ansah | Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s