Pulang Ke Desa

pulang desa

Pulang Ke Desa; sebentuk ikhtiar menyelami kembali hakikat jati diri.

Ia bukan tentang rivalitas desa-kota,bukan soal miskin-kaya, tidak pula tentang citra harta benda. Kembali ke desa adalah upaya menemukan kembali lembar-lembar kesahajaan setelah sekian lama tercarik-carik oleh kota yang penuh keegoisan.

Pulang ke desa, kembali menatap wajah humanis yang lama bersembunyi dibalik keangkuhan kota yang materialis. Sebab kemodernan tak selalu menawarkan kebanggaan. Pada kesederhanaanlah kewibawaan merembulan. Selagi fisik bergumul dengan ruang dan waktu,  batin membangun interaksi tunggal dengan-Nya. Silaturahim membuka hubungan dialogis vertikal dan horizontal. Maka pulang ke desa adalah sebentuk tasyahud jua.

Desa adalah tempat nasehat-nasehat orang tua bergema. Rumah dimana larik-larik kebijaksanaan mengurai ragu yang masih candramawa.  Rumah dimana pengalaman dan zaman bercampur dalam hubungan sakralistik yang asyik. Juga pada sudut-sudut rumah yang bercerita tentang sejarahnya, lemari kayu dan juga dipan bambu yang berseloroh tentang masa lalu.

Desa adalah rumah bagi sajak-sajak merdu. Desa adalah rumah bagi puisi-puisi yang rindu.

12082016aSuandri Ansah | Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s