[Repost] Hujan Dan Awan Tidak Saling Melupakan

image

Inikah rumah itu? Dimana pintunya? Rindu mulai gelisah. Ia menepuk-nepuk dada. Sampai sebuah keramaian melemparkan pada ingatan. Bahwa ada kalanya kenangan memang jadi masa lalu yang menyakitkan. Atau tak semua yang tua selalu pergi dengan senyuman yang menyenangkan.
–Pulang Kampung, Horison

Aku menulis ini disamping jendela kaca. Hujan mengetuk daunnya, kembali membasahi kenangan yang aku tinggalkan di stasiun pemberangkatan. Maaf, aku tak harus membawa semuanya kan?

Senandung Indra bergema dalam nyanyian raya. Menyapa doa-doa para bakta  kepada yang Kuasa. Atap dan jendela semua merasa sepanjang rangkaian kereta.

Deru lokomotif  tiba-tiba saja menyela: Tidakkah kau merindukan seseorang kawan?

Lagu penunggang Airawata itu kini sayup ku dengar. Hanya nada-nadanya saja merangkai di kaca jendela. Aku mengamati layar menyala di tangan. Membuka potongan kenangan. Menarik mundur waktu ke beberapa bulan lalu.

Aku tak mungkin lupa. Seperti baru saja kelingking kami berkait untuk memasti kembali jumpa. Saling mengirim senyum saat kereta ini mulai melaju. Poom! Tanda jalannya masih terasa dengar di telingaku.

Hujan  kembali pada senandungnya dan masing-masing orang semakin menikmatinya. Sedang aku? Semakin tenggelam dalam dilema. Lokomotif tak mau bertanggung jawab dengan pertanyaannya. Kembali asyik menarik rangkaiannya.

Kau ini bukan kereta uap kan? Kenapa rindu ini kau kembali nyalakan? Lokomotif tetap berdiam.

Aku adalah hujan yang ingin sekali berkunjung ke rumahmu—Lampu, Horison

Andai saja aku hujan. Bersama awan aku bisa sesuka hati mengunjungimu. Mengetuk jendela rumah dan bermain di terasmu.

Kamu selalu punya alasan untuk tetap mendengar ceritaku. Tentang peristiwa dan hal apa saja.

Seperti hujan dengan awan. Hujan yang jatuh tak pernah membenci awan, yang selalu punya cara agar ia kembali bersamanya. Menyatu di angkasa. Hujan dan awan tak pernah saling melupakan.

Poomm! Lokomotif menyentak. Masih saja berdialektika dengan kenangan kawan? Halah! Tak usah kau risaukan. Derunya menjengkelkan.

Huh, kereta ini seenaknya saja bicara. Apakah ia tak pernah merasasakan terlepas dari rangkaiannya?

Poom! Aku ini kereta yang berbeda kawan.

Berbeda?

Poom!

Ah iya! kau  bukan kereta yang sama. Bukan kau yang menghantar temu. Benar katamu. Karena aku tidak berangkat dari stasiun yang sama, dengan kereta yang sama.

Dimana rindu harus kembali jumpa.

Ah, di kereta ini Dejavu baru saja berlalu.

Megawahana menghentikan awannya. Aku berhenti menulis, memasukkan ponsel segera ke saku. Lokomotif behenti dan aku harus keluar dari rangkaian ini. –Bogor-Jakarta

Kau tahu, tahun-tahun telah mencipta batu ketika hujan baru saja beranjak dari gugusan rambutmu.—Jendela, Horison

Teringat Yogyakarta-Jakarta
Untuk seseorang disana yang semakin lama tak jumpa

Sepenuh rindu,

Suandri Ansah | Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s