Streetpeace

Street photography is simply the art of wandering in public places, and taking photos of whatever interests you, demikian Erick Kim mendefinisikannya. Dan inilah yang membuat saya “jatuh hati” mengabadikan aktifitas manusia lewat lensa kamera.

Continue reading

Advertisements

Kesalahan Cara Pandang

DSC_0740

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memberikan penjelasan terkait upaya Pemerintah dalam mengawal isu Palestina pada Aksi Bela Palestina, Ahad 17 Desember 2017. Foto: Suandriansah

Kiai Lukman adalah korban dari cara pandang sebagian masyarakat yang hitam-putih.

“Huuuu” yang dilontarkan pada Menag mungkin tumbuh dari pemahaman atas teks-teks yang berkeliaran di media sosial, yang mereka anggap sebuah kebenaran pasti.

“Apes” bagi Kiai Lukman yang menjabat pada era dimana tensi Politik Agama dan politisasi agama sedang panas-panasnya. Ditambah fenomena hoax yang merajalela.

“Pokoknya kalau tidak sependapat dengan kita dia salah, dia musuh kita.”

Padahal hidup kan tak selamanya harus Hitam-Putih, benar-salah.  Di sana ada spektrum warna yang masih bisa dicari kecocokannya.

Soal Palestina, kita terus mendorong-dorong MUI agar mendesak Pemerintah bersikap tegas. Saat Pemerintah (lewat Kemenag) menyampaikan penjelasannya, malah berteriak-teriak.

Bagaimana khilafah akan tegak kalau cara kita berakhlak saja masih rusak. Mau nya apa sih?

Segerakanlah Sembayang Seperti Kamu Menyegerakan Pipis dan Pup

Suatu ketika setelah liputan di sebuah Hotel Grand Syahid di Jaksel, saya ngobrol sama kawan sambil jalan pulang.

Di tengah obrolan, masih di hotel mewah itu, terdengar adzan Ashar. Saya ajak kawan saya sembayang. Kebetulan juga saya kebelet pipis, sekalian maksudnya.

Eh.. tak disangka, saya kira dia alim, ternyata semua laki-laki sama aja. Azan masih berkumandang dia malah izin pulang duluan. Duh, betapa susah mau jadi orang saleh.

Yowes, karena ga ada temen pulang, ga jadilah saya pipis. Dan ga jadi juga saya sembayang. Kemaluan saya-rasa malu maksudnya-muncul. Kebetulan mushallanya Deket sama WC.

Nanti kalo ditanya Tuhan bisa repot jawabnya. “Hai Suandri! Kenapa kamu hanya pipis. Tidak sembayang sekalian, padahal mushallanya Deket wc”. Bisa modar saya.

Kalo ga pipis kan bisa jawab. “Anu.. Tuhan, saya kan ga jadi pipis. Dan Engkau kan benci orang yang sembayang sambil nahan pipis”. Kemungkinan selamat masih ada.

Lalu sambil jalan saya merenung kecil-kecilan, seberapa lama saya bisa nahan pipis? Paling sejam dua jam.

Lalu timbul pertanyaan, kalo sehari ga pipis, ga pup. Gimana rasanya ya. Kalo orang kebelet banget pipis sama pup, bisa ditahan ga ya?

Nah, kita masuk bahasan yang agak dalem dikit. Siap-siap. Ternyata renungan saya ada gunanya juga. Minimal saya jadi sadar betapa pentingnya menyegerakan shalat.

Seperti menyegerakan pipis dan pup, terutama kalo udah kebelet banget. Saya sadar, tetapi penerapannya belum tentu lancar.

Saya sering nunda sembayang, gimana kalo Gusti Allah nunda proses pipis dan pup saya. Nanti saya protes,

“Lho, gimana ini ya Allah, kenapa saya jadi susah pipis, susah pup begini?” Prediksi saya, Allah akan jawab begini,

“Lha, kamu nunda sembayang, sering juga gak sembayang saya biasa aja. Padahal itu juga kebutuhanmu. Masa saya ga kasih kamu pipis dan pup barang sehari-tiga hari, kamu protes?”

Lha bisa modar tenanan tho saya ini. Kalo saya minta tolong malaikat, nanti diketawain, “Lha saya ini ga pipis, ga pup je. Saya nurut Gusti Allah”. Njur piye nimpaline, dab?

Ya, minimal ini jadi “teori” sekaligus “cambuk” bagi saya sendiri. Soalnya teori “Sholat seperti Makan” dan “Sholat seperti Bernafas” yang sering disampaikan ustad-ustad susah saya cerna.

Saya bisa nahan ga makan dua tiga hari. Kalo ga dikasih nafas berarti saya ga wajib sembayang lagi. Selesai urusan.

Lagipula, teori ini saya pikir bisa jadi bahan negosiasi dengan Allah di akhirat nanti. “Hai Suandri!! Kenapa sembayangmu kadang tepat kadang telat 15 menit?”

“Nyuwun pangapunten Gusti Allah, soalnya batas maksimal saya nahan pipis sama pup kira-kira ya 15 menit itu.”

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

Mewaspadai Khilafah Gaya Baru

Demo HTI

Massa Hizbut Tahrir Indonesia demo tolak Perppu Ormas di Kawasan Patung Kuda, Monumen Nasional Jakarta Pusat. Foto: Suandri Ansah

Setelah resmi di cabut status badan hukumnya oleh Kemenkopolhukam, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nampaknya akan mejelma menjadi salah satu “hantu” yang paling ditakuti di negeri ini setelah Pocong, Suster Keramas, Jalangkung, dan tentu saja Party Kommunist Indonesia (PKI).

Pencabutan status hukum otomatis menihilkan hak HTI menjalankan segala gerilya khilafahnya. Jangankan berdakwah, atributnya pun tak boleh nongol lagi. Kelak jika ada pemuda yang dengan santainya pakai oblong bertuliskan “HTI”, siap-siap saja dicyduk polisi. Continue reading

Membandingkan Ke-Ndeso-an Kaesang dan Tukul Arwana

kaesang-pangarep_20161211_195330

Kaesang dan pacarnya. Ojo iri mbloo.. Foto: Instagram.com/kaesangp/

Ramai nya perbincangan video blog (vlog) ndeso ala Mas Kaesang Pangarep mengingatkan saya kepada salah satu iklan penyedia layanan telekomunikasi swasta di Indonesia yang dibintangi oleh artis berwajah ndeso Tukul Arwana tahun 2014 lalu.

Saya ndak tahu apakah Mas Kaesang memplagiat video iklan itu atau tidak. Soalnya agak-agak mirip. Saya khawatir kalau Mas Kaesang mulai terinspirasi oleh AFI Nihaya, cewek SMA yang kerap melakukan plagiarisme dalam status Facebok-nya itu.

Continue reading