Mewaspadai Khilafah Gaya Baru

Demo HTI

Massa Hizbut Tahrir Indonesia demo tolak Perppu Ormas di Kawasan Patung Kuda, Monumen Nasional Jakarta Pusat. Foto: Suandri Ansah

Setelah resmi di cabut status badan hukumnya oleh Kemenkopolhukam, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nampaknya akan mejelma menjadi salah satu “hantu” yang paling ditakuti di negeri ini setelah Pocong, Suster Keramas, Jalangkung, dan tentu saja Party Kommunist Indonesia (PKI).

Pencabutan status hukum otomatis menihilkan hak HTI menjalankan segala gerilya khilafahnya. Jangankan berdakwah, atributnya pun tak boleh nongol lagi. Kelak jika ada pemuda yang dengan santainya pakai oblong bertuliskan “HTI”, siap-siap saja dicyduk polisi. Continue reading

Advertisements

Membandingkan Ke-Ndeso-an Kaesang dan Tukul Arwana

kaesang-pangarep_20161211_195330

Kaesang dan pacarnya. Ojo iri mbloo.. Foto: Instagram.com/kaesangp/

Ramai nya perbincangan video blog (vlog) ndeso ala Mas Kaesang Pangarep mengingatkan saya kepada salah satu iklan penyedia layanan telekomunikasi swasta di Indonesia yang dibintangi oleh artis berwajah ndeso Tukul Arwana tahun 2014 lalu.

Saya ndak tahu apakah Mas Kaesang memplagiat video iklan itu atau tidak. Soalnya agak-agak mirip. Saya khawatir kalau Mas Kaesang mulai terinspirasi oleh AFI Nihaya, cewek SMA yang kerap melakukan plagiarisme dalam status Facebok-nya itu.

Continue reading

Kegembiraan yang Berkeadilan

Ramadhan berganti Syawal, tetapi semangatnya jangan ikutan budal. Lebaran, cukup cintamu saja yang tersengal. Iman harus tetap kekal.

Dua puluh 9 hari ketaqwaan telah disekolahkan. Bukan hanya 8 jam, tapi Full Day dengan kurikulum yang disesuaikan. Setansetan juga dimadrasahkan dari menggoda ummat beriman. Barangkali disuruh merenung.

Jangan lagi tanya soal pendidikan karakter. Kemendikbud tak punya secuil urusan, kecuali penyelenggaraan pesantren kilat di instansi pendidikan.

Lebaran, setansetan-yang juga puasa dari menggoda manusia-dilepaskan seiring dibebaskannya nastarnastar dan biskuit Khong Guan dari lemari pers3mbunyian.

Kini, godaannya bahkan bisa lebih memikat dari senyum manis gebetan yang menunggu kedatanganmu bersama keluarga di depan pintu yang habis di cat dengan warna baru.

Minal Aidin wal Faidzin bisa jadi luapan kegembiraan atas dua makhluk ciptaan Tuhan (yang paling seksi): insan beriman dan setansetan. Kegembiraan yang berkeadilan.

Ayat Kasmaran

DSC_0446

Foto: SUANDRIANSAH

  1. Wahai jomblo-jomblo yang tenang, sebutlah nama gebetanmu pada permulaan pagi dan petang. Maka bagimu cinta, mengalir di dalamnya rindu yang jernih lagi manis rasanya. Rindang kasih sayang dan menyejukkan pandangan. Engkau kekal di dalamnya.
  2. Ketahuilah, Aku sebaik-baik tempat bersandar. Jika mereka bertanya tentang-Ku, katakanlah: Aku ada di hati mereka yang ditolak cintanya.

Hafalkan dan ulang-ulangilah ayat ini sebelum dan sesudah mandi, atau sambil sisiran. Semoga Tuhan mengampuni dia yang menyakiti hatimu.

©Suandri Ansah

Bunga-Bunga Bangsa

DSC_0591.JPG

Massa Aksi 55 melintas di depan penjual kacamata di depan stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Foto: SUANDRIANSAH

Ada tren baru dalam kancah politik nasional, politik bunga-bunga namanya. Mencuat setelah ribuan karangan bunga untuk Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat menghiasi Balai Kota DKI Jakarta, sebelum akhirnya menjadi sampah di Monumen Nasional atau dibakar massa demo buruh 1 Mei kemarin.

Semenjak itu, karangan bunga mulai ‘tumbuh’ juga di pekarangan Markas Besar Kepolisian Indonesia, di Polda Metero Jakarta Raya, dan di beberapa markas kepolisian nampaknya. Di beberapa markas Tentara Nasional Indonesia juga ada, seperti di Komando Daerah Militer II/Sriwijaya.

Beragam tafsir muncul, sekadar ucapan simpatik atau bahkan manuver komunikasi politik. Nampaknya, kubu Ahok-bisa dibilang begitu- yang memulainya memang pandai memainkan teknik komunikasi massa dan propaganda. Pilkada tak mengalahkannya, namanya masih disebut dimana-mana.

Sekarang, kita tinggalkan saja ‘bunga-bunga politik itu’ sebab nantinya takut menodai kesucian, keharuman bunga itu sendiri. Sebab di banyak budaya, bunga menjadi simbol cinta dan kasih sayang. Meski juga pada momen tertentu, bunga menjadi simbol kesedihan, pada kematian misalnya.

Kita fokus pada bunga yang lain, ‘bunga keadilan’. Hari ini, 5 Mei masyarakat kembali melakukan aksi. Aksi 55 sebutannya. Seperti aksi-aksi sebelumnya, berbagai elemen ummat Islam akan memenuhi kawasan Istiqlal dan Monumen Nasional.tuntutannya tetap sama: Tegakkan Keadilan.

Mereka kecewa, pasalnya Ahok-sang Terdakwa penista agama- hanya dituntut setahun penjara dengan percobaan dua tahun. Artinya, Ahok masih bebas kemana-mana selama masa percobaan dan tidak melanggar pidana yang sama.

Ironisnya lagi, pasal yang dikenakan adalah pasal alternatif tentang ujaran kebencian pada suatu golongan. Padahal Majelis Ulama telah mengeluarkan sikap bahwa Ahok jelas-jelas menista agama. Aksi hari ini, menjadi bagian dari proses tegaknya keadilan. Mereka rela panas-panasan, berlelah-lelah, demi menumbuhkan ‘bunga keadilan’ itu.©

Semoga Tetap Tabah

DSC_0681

Ummat Islam berwudhu untuk shalat Jumat dalam Aksi 212 di Silang Monas, Jakarta Pusat.  Foto: SUANDRIANSAH

Forum Umat Islam (FUI) kembali menggulirkan aksi. Sekjen FUI KH Muhammad Al Khaththath mengklaim, aksi dengan kode cantik 313 ini akan diikuti 100 ribu massa berbagai daerah.

Rangkaiannya sama seperti aksi-aksi dahulunya, lepas Jumat di Istiqlal, massa akan bergerak ke Istana Merdeka. Banyak yang menganggap aksi ini begitu kental aroma politiknya, mengingat dua pekan berikutnya pencoblosan untuk kursi gubernur DKI akan kembali digelar.

FUI mengklaim hanya menuntut Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dicopot dari tahtanya-padahal saat ini Ahok sudah nonaktif dari gubernur akibat kampanye putaran kedua.

Soal hukum, Ahok juga sedang dibelit agenda sidang akibat ucapannya menyoal agama dengan begitu serampang. Memaksa presiden menahan Ahok juga tidak etis, ini akan menjadi bentuk intervensi hukum, tidak konsisten dengan tuntutan aksi-aksi bela Islam sebelumnya.

Strategi ini, selain tidak terlalu efektif, juga tidak begitu menuai banyak buah, selain debat dan kontroversi. Pemenangan politik lewat aksi jalanan pun saat ini tak begitu menggembirakan. Kehadiran media sosial dan teknologi membuat politikus dan simpatisan beralih ke ranah kreatif.

Kita berharap, semoga ummat tidak lelah. Berkali-kali demo, semoga tidak berkali kali ummat kalah. Mengingat setiap wacana aksi jalanan, ummat selalu menjadi pihak yang-dituduh-bersalah.

Perlu diingat, jalan politik Islam di Indonesia masih begitu panjang. Nafas juang ummat perlu dijaga, pilkada ibu kota memang berat, namun bukan berarti semua amunisi dihabiskan. Ada pepatah nila setitik rusak susu sebelanga. Hati-hati salah langkah. Semoga, ummat Islam tetap tabah.

©Suandri Ansah
Jakarta | Maret 2017, 31