Kegembiraan yang Berkeadilan

Ramadhan berganti Syawal, tetapi semangatnya jangan ikutan budal. Lebaran, cukup cintamu saja yang tersengal. Iman harus tetap kekal.

Dua puluh 9 hari ketaqwaan telah disekolahkan. Bukan hanya 8 jam, tapi Full Day dengan kurikulum yang disesuaikan. Setansetan juga dimadrasahkan dari menggoda ummat beriman. Barangkali disuruh merenung.

Jangan lagi tanya soal pendidikan karakter. Kemendikbud tak punya secuil urusan, kecuali penyelenggaraan pesantren kilat di instansi pendidikan.

Lebaran, setansetan-yang juga puasa dari menggoda manusia-dilepaskan seiring dibebaskannya nastarnastar dan biskuit Khong Guan dari lemari pers3mbunyian.

Kini, godaannya bahkan bisa lebih memikat dari senyum manis gebetan yang menunggu kedatanganmu bersama keluarga di depan pintu yang habis di cat dengan warna baru.

Minal Aidin wal Faidzin bisa jadi luapan kegembiraan atas dua makhluk ciptaan Tuhan (yang paling seksi): insan beriman dan setansetan. Kegembiraan yang berkeadilan.

Ayat Kasmaran

DSC_0446

Foto: SUANDRIANSAH

  1. Wahai jomblo-jomblo yang tenang, sebutlah nama gebetanmu pada permulaan pagi dan petang. Maka bagimu cinta, mengalir di dalamnya rindu yang jernih lagi manis rasanya. Rindang kasih sayang dan menyejukkan pandangan. Engkau kekal di dalamnya.
  2. Ketahuilah, Aku sebaik-baik tempat bersandar. Jika mereka bertanya tentang-Ku, katakanlah: Aku ada di hati mereka yang ditolak cintanya.

Hafalkan dan ulang-ulangilah ayat ini sebelum dan sesudah mandi, atau sambil sisiran. Semoga Tuhan mengampuni dia yang menyakiti hatimu.

©Suandri Ansah

Bunga-Bunga Bangsa

DSC_0591.JPG

Massa Aksi 55 melintas di depan penjual kacamata di depan stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Foto: SUANDRIANSAH

Ada tren baru dalam kancah politik nasional, politik bunga-bunga namanya. Mencuat setelah ribuan karangan bunga untuk Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat menghiasi Balai Kota DKI Jakarta, sebelum akhirnya menjadi sampah di Monumen Nasional atau dibakar massa demo buruh 1 Mei kemarin.

Semenjak itu, karangan bunga mulai ‘tumbuh’ juga di pekarangan Markas Besar Kepolisian Indonesia, di Polda Metero Jakarta Raya, dan di beberapa markas kepolisian nampaknya. Di beberapa markas Tentara Nasional Indonesia juga ada, seperti di Komando Daerah Militer II/Sriwijaya.

Beragam tafsir muncul, sekadar ucapan simpatik atau bahkan manuver komunikasi politik. Nampaknya, kubu Ahok-bisa dibilang begitu- yang memulainya memang pandai memainkan teknik komunikasi massa dan propaganda. Pilkada tak mengalahkannya, namanya masih disebut dimana-mana.

Sekarang, kita tinggalkan saja ‘bunga-bunga politik itu’ sebab nantinya takut menodai kesucian, keharuman bunga itu sendiri. Sebab di banyak budaya, bunga menjadi simbol cinta dan kasih sayang. Meski juga pada momen tertentu, bunga menjadi simbol kesedihan, pada kematian misalnya.

Kita fokus pada bunga yang lain, ‘bunga keadilan’. Hari ini, 5 Mei masyarakat kembali melakukan aksi. Aksi 55 sebutannya. Seperti aksi-aksi sebelumnya, berbagai elemen ummat Islam akan memenuhi kawasan Istiqlal dan Monumen Nasional.tuntutannya tetap sama: Tegakkan Keadilan.

Mereka kecewa, pasalnya Ahok-sang Terdakwa penista agama- hanya dituntut setahun penjara dengan percobaan dua tahun. Artinya, Ahok masih bebas kemana-mana selama masa percobaan dan tidak melanggar pidana yang sama.

Ironisnya lagi, pasal yang dikenakan adalah pasal alternatif tentang ujaran kebencian pada suatu golongan. Padahal Majelis Ulama telah mengeluarkan sikap bahwa Ahok jelas-jelas menista agama. Aksi hari ini, menjadi bagian dari proses tegaknya keadilan. Mereka rela panas-panasan, berlelah-lelah, demi menumbuhkan ‘bunga keadilan’ itu.©

Semoga Tetap Tabah

DSC_0681

Ummat Islam berwudhu untuk shalat Jumat dalam Aksi 212 di Silang Monas, Jakarta Pusat.  Foto: SUANDRIANSAH

Forum Umat Islam (FUI) kembali menggulirkan aksi. Sekjen FUI KH Muhammad Al Khaththath mengklaim, aksi dengan kode cantik 313 ini akan diikuti 100 ribu massa berbagai daerah.

Rangkaiannya sama seperti aksi-aksi dahulunya, lepas Jumat di Istiqlal, massa akan bergerak ke Istana Merdeka. Banyak yang menganggap aksi ini begitu kental aroma politiknya, mengingat dua pekan berikutnya pencoblosan untuk kursi gubernur DKI akan kembali digelar.

FUI mengklaim hanya menuntut Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dicopot dari tahtanya-padahal saat ini Ahok sudah nonaktif dari gubernur akibat kampanye putaran kedua.

Soal hukum, Ahok juga sedang dibelit agenda sidang akibat ucapannya menyoal agama dengan begitu serampang. Memaksa presiden menahan Ahok juga tidak etis, ini akan menjadi bentuk intervensi hukum, tidak konsisten dengan tuntutan aksi-aksi bela Islam sebelumnya.

Strategi ini, selain tidak terlalu efektif, juga tidak begitu menuai banyak buah, selain debat dan kontroversi. Pemenangan politik lewat aksi jalanan pun saat ini tak begitu menggembirakan. Kehadiran media sosial dan teknologi membuat politikus dan simpatisan beralih ke ranah kreatif.

Kita berharap, semoga ummat tidak lelah. Berkali-kali demo, semoga tidak berkali kali ummat kalah. Mengingat setiap wacana aksi jalanan, ummat selalu menjadi pihak yang-dituduh-bersalah.

Perlu diingat, jalan politik Islam di Indonesia masih begitu panjang. Nafas juang ummat perlu dijaga, pilkada ibu kota memang berat, namun bukan berarti semua amunisi dihabiskan. Ada pepatah nila setitik rusak susu sebelanga. Hati-hati salah langkah. Semoga, ummat Islam tetap tabah.

©Suandri Ansah
Jakarta | Maret 2017, 31

Berebut Kefanaan

semar-berebut-kefanaan

Pencoblosan telah dilaksanakan, kini masyarakat dinaungi perasaan deg-degan menunggu keputusan siapakah yang akan menjadi pemimpin daerahnya di masa depan. Komisi Pemilihan Umum kini tengah melakukan penghitungan, angka-angka suara tengah menjadi fokus perhatian.

Sementara itu, berbagai lembaga survei sudah lebih dulu memutuskan, lewat prediksi yang dinamakan hitung cepat dan berbagai metode lainnya. Hasil lembaga ini, kelak menjadi pegangan peserta Pilkada mengatur strategi lanjutan. Bagi publik, ini juga menjadi sorotan, meski nampaknya lebih banyak berakhir ngotot-ngototan.

Dalam hal Pilkada DKI Jakarta, agaknya berlangsung dua putaran, menilik hasil lembaga survei bahwa tidak ada calon yang memenuhi 50 persen tambah 1. Dua paslon, Basuki-Djarot dan Anies-Sandi, menilik lagi hasil hitung cepat, dipastikan melaju ke konstelasi selanjutnya. Ucapkan selamat tinggal kepada Agus-Sylvi.

Mesin-mesin politik dua kubu mulai berputar, merancang strategi mengeruk pundi-pundi suara untuk putaran kedua, utamanya suara paslon Agus-Sylvi yang kini menjadi target seksi. Angka (sekitar) 17 persen yang kini begitu berarti. Pedekate mulai dilakui. Di tingkat elit, mulai konsolidasi-silaturahim sana-sini.

Tak lupa, di era teknologi canggih ini pasukan siber mulai dikomandoi. Buzzer-buzzer politik kembali bergetar, menderu. Layaknya mesin yang beroperasi, bisingnya kembali mempolusi ruang-ruang mata dan pendengaran. Seringkali juga menyebar ranjau-ranjau kebohongan. Apa saja dilakukan.

Namun demikian, patut dicatat. Pilkada adalah hal yang fana, buzzer-buzzer sesuatu yang mudah sirna. Jangan sampai konstelasi perebutan tahta menghilangkan sifat dan sikap sebagai manusia yang beretika dan beragama. Rebutlah suara-suara dengan cara mulia. Kelak suara-suara itu akan dipertanggungjawabkan.©

 

Memeluk Rohingya

genosida-rohingya

Konferensi Pers South East Asia Humanitarian (SEAHUM) bersama Aliansi Lembaga Kemanusiaan Indonesia. Mereka mendorong pemerintah Indonesia segera melakukan langkah taktis diplomatis terkait tragedi kemanusiaan yang menimpa minoritas Rohingya di Rakhine, Myanmar. Foto: Suandri

Matra bersenjata Myanmar secara demonstratif memasuki kampung-kampung warga minoritas Muslim Rohingya dan melakukan genosida besar-besaran. Lembaga pengamat hak asasi manusia Human Rights Watch melaporkan telah terjadi perusakan besar-besaran desa-desa di negara bagian Rakhine yang terletak di pantai barat Myanmar.

Sediktinya 1250 rumah dari lima desa yang dihuni warga etnis Rohingya dihancurkan, 70 warga meninggal dan 400 orang ditangkap dalam operasi militer Burma, nama lain Myanmar. Kondisi ini diprediksi akan memantik gelombang pengungsi yang akan melanda kawasan Asia Tenggara dan Selatan.

“Gambar satelit baru-baru ini tidak hanya menunjukkan kerusakan yang meluas di desa-desa Rohingya tetapi memperlihatkan bahwa kerusakan itu lebih besar dari yang kita perkirakan pertama kali,” demikian ujar Brad Adams, Direktur HRW Asia dikutip laman resmi HRW, Kamis (24/11).

Kondisi ini menyulut kembali emosi dunia Internasional. Myanmar lagi-lagi melukai kedamaian dunia sambil melucuti hak-hak asasi manusia di dalamnya. Tidak hanya terusir, warga juga mengalami penyiksaan, pembunuhan, penyembelihan, kerja paksa, dan yang paling rentan menjadi korban adalah anak-anak dan perempuan. Sejak 30 tahun lalu Minoritas Muslim Rohingya menangisi penjajahan ini.

Tidak berhenti sampai di situ, operasi keamanan pemerintah juga telah memotong bantuan kepada puluhan ribu orang dan memaksa warga meninggalkan rumah mereka, 30 ribu warga terusir. Di Indonesia, lembaga-lembaga kemanusiaan membentuk sebuah aliansi “pasukan” kemanusiaan, mengirim bantuan ke titik-titik konflik di sana.

Selangkah lebih maju, lagi-lagi masyarakat lebih peka kepada kemanusiaan ketimbang negara (baca: pemerintahan) itu sendiri. Lagi-lagi rakyat yang mendesak pemerintah untuk segera bersikap atas penodaan kemanusiaan di Myanmar, mungkin masih ada yang ingat kisah nelayan Aceh menolong “Manusia Perahu” Mei tahun silam.

Ke depan, pemerintah diharapkan tidak sekadar mengungkapkan rasa keprihatinan dan sekadar menaruh harap pada pemerintah Myanmar. Lebih dari itu langkah taktis diplomasi untuk menghentikan kekerasan, dan membuka blokade kawasan etnis Rohingya kepada lembaga kemanusiaan. Cukup pemerintah bukakan pintunya, biar rakyat yang memeluk Rohingya mengusap kesedihan di hatinya.

Harian Amanah
Jakarta | November 2016, 24